, ,

    BANGKA, ARUSMUDA.COM - Sekretaris Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI), Irsadul Lubab, tak ingin ambil pusing terkait dengan tuduhan miring, tendensius dan sarkastis kepada organisasi besutan Habib Rizieq Shihab itu. Dia ingin agar orang yang menuduh FPI dengan framing negatif dapat melihat karya-karya nyata.

    "Apapun tuduhan yang dilakukan oleh pihak yang menuduh kami sebagai kelompok atau Ormas Islam yang intoleran, sebenarnya pernyataan ini gak perlu kami jawab," kata Irsadul di lokasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-7, di Pangkal Pinang, Bangka, Jumat (28/2).

    Dia menyebutkan, FPI akan dan terus hadir di tengah masyarakat. Salah satunya ketika terjadi beberapa musibah yang menimpa masyarakat Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa FPI mempunyai kepedulian dengan masalah rakyat dan keumatan.

    "Untuk masalah kemanusiaan, FPI tak pernah membeda-bedakan agama, suku dan lain sebagainya. Bagi kami urusan kemanusiaan adalah urusan bersama, karena sudah tak ada kaitan dengan agama apapun," tuturnya.

    Mengenai wacana pihak yang mempertentangkan agama dan Pancasila, dia menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara. Sebagai dasar negara, tentu sudah tidak bisa dirubah dan diganti.

    "Oleh karena itu, Pancasila bagi kami adalah final. Final sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, dan tidak perlu dibentur benturkan lagi dengan urusan agama," kata Irsadul.

    Sehingga jika ada pernyataan bahwa agama musuh terbesar Pancasila adalah pernyataan yang salah. Menurut dia, Pancasila tidak perlu di perdebatkan lagi.

    "Karena, memang Pancasila diilhami oleh nilai nilai hasil daripada komunikasi dan musyawarah bapak pendiri bangsa untuk mendirikan bangsa dan negara," katanya.

    , , ,

    MAKASSAR, ARUSMUDA.COM — Menyusul viralnya video pengeroyokan yang berujung tewasnya Yus Yunus (26), warga asal Sumberejo, Kecamatan Wonomulyo, Polman, Sulbar, kini respon yang mengarah ke isu SARA mulai merebak.

    Menanggapi hal tersebut, HMI MPO Badko Sulselbar turut mengecam peristiwa yang terjadi di jalan Trans Papua Nabire-Enarotali, Kampung Ekimani Distrik Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai, Ahad, (23/2/2020).

    “Indonesia kan negara hukum. Jadi jangan main hakim sendiri. Makanya kami sangat mengecam peristiwa ini,” kata Ketua HMI MPO Badko Sulselbar Samsuryadi, Sabtu (28/02/2020).

    Pihaknya menyesalkan, sebab kejadian itu berlangsung di depan aparat kepolisian setempat.

    “Kami sangat menyayangkan aparat kepolisian yang tidak bertindak tegas terhadap pelaku. Seharusnya pihak aparat melindungi Yunus, mereka malah tidak berdaya di hadapan masyarakat yang main hakim sendiri,” kritiknya.

    Selain mengungkapkan kekecewaan atas kinerja kepolisian dalam mencegah terjadinya kasus tersebut, pihaknya juga khawatir, kasus ini melebar dan memicu konflik baru yang berbau SARA. Olehnya, Syamsuryadi berharap agar kepolisian bisa memperbaiki kinerja dan mengambil langkah untuk mencegah hal tersebut.

     “Kapolri harus bergerak, menginstruksikan agar kasus ini diusut tuntas dan mengantisipasi isu SARA yang mulai muncul,” pungkasnya.

    , ,

    JAKARTA, ARUSMUDA.COM - Peristiwa pemotongan rambut hingga botak terhadap guru-guru yang diduga lalai dalam menjalankan tugasnya sehingga kegiatan yang didampinginya merenggut nyawa anak-anak didiknya adalah sebuah penghinaan terhadap profesi guru.

    Oleh karena itu Ikatan Guru Indonesia menuntut Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk memberikan hukuman yang berat kepada pelaku oknum polisi yang telah menghina guru dengan cara memotong rambutnya hingga botak.

    Jika Kapolri tidak memberikan hukuman tersebut maka kami menuntut Kapolri untuk mengundurkan diri dari jabatannya karena penghinaan terhadap profesi guru tak boleh dibiarkan begitu saja meskipun sang guru berstatus terduga melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa siswa SMP 1 Turi.

    Peristiwa susur sungai yang telah merenggut nyawa siswa SMP 1 Turi tentu saja menjadi persoalan serius meskipun diyakini tidak ada sedikitpun unsur kesengajaan oleh pihak guru pendamping dalam menjalankan tugasnya untuk secara sengaja mencelakai siswanya apalagi hingga membunuh siswanya.

    Harus diakui ada kekeliruan dan kelalaian sehingga menimbulkan korban jiwa tetapi juga diyakini bahwa tidak ada unsur kesengajaan oleh guru tersebut untuk menghilangkan nyawa anak didiknya

    Dan karena itu proses itu kami serahkan sepenuhnya untuk diproses secara hukum dan kami menghargai dan sangat mengapresiasi kawan-kawan organisasi guru lainnya yang telah lebih awal menurunkan tim bantuan hukum untuk mendampingi kawan-kawan guru kita yang mendapatkan musibah.

    Namun terlepas dari kesalahan dan kelalaian mereka sesungguhnya tidak layak polisi memperlakukan mereka dengan cara menghinakan mereka dengan memotong rambutnya hingga botak lalu memasarkannya ke publik. Seolah polisi jauh lebih menghargai koruptor yang membunuh kemanusiaan dibanding guru yang secara tidak sengaja lalai yang menimbulkan korban jiwa.

    Para polisi ini lupa kalau mereka tidak akan pernah menjadi polisi tanpa peran guru sedikitpun dan para polisi yang menggunduli ini seolah lupa bahwa membaca dan menulis pun mereka tak akan mampu jika tanpa dibantu oleh guru dan karena itu seharusnya polisi ini bukan mempermalukan guru dengan cara-cara seperti itu tetapi seharusnya mereka memperlakukan guru dengan cara yang baik dengan tetap mengedepankan proses hukum dan asas praduga tak bersalah.

    Guru-guru ini juga memiliki keluarga dan kehormatan keluarga mereka juga harus dijaga karena mereka melakukan semua itu tanpa unsur kesengajaan tetapi murni karena kelalaian dan faktor alam.

    Kami dari ikatan guru Indonesia Tentu saja sangat prihatin dengan jatuhnya korban dari peristiwa susur sungai ini dan ikatan guru Indonesia wilayah Yogyakarta bahkan telah mengumpulkan dana dari berbagai pihak untuk disalurkan kepada keluarga korban dan juga keluarga guru yang sedang bermasalah

    Jakarta, 26 Februari 2020

    , ,

    MAKASSAR, ARUSMUDA.COM - Sebagai wujud keprihatinan Media Online Indonesia (MOI) terhadap peredaran hoax di kalangan pelajar, Pengurus MOI Sulsel bertandang ke Kantor Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan.

    Rombongan MOI Sulsel bersilaturahmi dan diterima langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel Dr H Basri, S.Pd., M.Pd. di kantor Disdik Sulsel, Rabu (24/02/2020) lalu.

    Ketua MOI Sulsel, Muslimin Yunus menjelaskan bahwa tujuan dari kunjungannya adalah untuk menjajaki peluang kerjasama Disdik terutama dalam pemberantasan berita hoaks di kalangan siswa.

    Menanggapi hal tersebut, Basri menyambut baik ajakan kerjasama MOI dan mengungkapkan kesediaan pihaknya untuk bersinergi.

    "Program MOI sangat bagus, kami arahkan MOI kerjasama OSIS dalam bentuk pendidikan dan pelatihan jurnalistik di sekolah," lanjut mantan Ketua KNPI Makassar ini.

    Bahkan Sekjen Perluni UNM ini berharap agar MOI dapat memaksimalkan peran media untuk mendukung Disdik dalam upaya melahirkan SDM berkualitas di sekolah, baik siswa maupun guru.

    Sumber foto: MOI

    , , ,

    MAKASSAR, ARUSMUDA.COM - Menanggapi gejolak sosial yang mungkin muncul pasca viralnya video pengeroyokan berujung kematian di wilayahnya pada Rabu (23/02/2020) yang lalu, akhirnya Bupati Dogiyai, Yakobus Dumupa S.IP angkat bicara.

    Bupati Dogiyai menyampaikan permohonan maaf dan duka cita mendalam bagi keluarga korban atas insiden tersebut. Ia pun berharap agar kasus kematian Yus Yunus tidak dibawa rana Rasis, Isu Sara dan mempercayakan kepada Pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian tersebut.

    Berikut pernyataan resmi Bupatu Dogiyai Yakobus Dumupa S.IP selengkapnya:

    SIARAN PERS PEMERINTAH KABUPATEN DOGIYAI MENGENAI KECELAKAAN LALU LINTAS DAN PENGEROKOYAN TERHADAP SOPIR TRUK DI KAMPUNG EKIMANI, DISTRIK KAMU UTARA, KABUPATEN DOGIYAI

    Pada hari Minggu, 23 Februari 2020, telah terjadi kecelakaan lalu lintas dan pengeroyokan di Jalan Raya Trans Papua, di Kampung Ekimani, Distrik Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai. Akibat kecelakaan dan pengeroyokan ini menyebabkan seorang pengendara motor atas nama DEMIANUS MOTE (37 tahun), warga Kabupaten Dogiyai, dan sopir truk atas nama YUS YUNUS (27 tahun) asal Polewali Madar, Sulawesi Barat meninggal dunia.

    Kejadian ini telah menjadi viral dan mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Berkaitan dengan itu dan dalam rangka untuk menyelesaikan masalah ini secara baik, jujur dan adil, saya selaku Bupati Dogiyai menyampaikan beberapa pernyataan sebagai berikut.

    (1) Pemerintah Kabupaten Dogiyai atas nama PARA PELAKU penyeroyokan dan pembunuhan serta seluruh masyarakat Kabupaten Dogiyai menyampaikan TURUT BERDUKA CITA dan PERMOHONAN MAAF yang sebesar-besarnya kepada pihak KORBAN almarhum YUS YUNUS dan keluarganya dan kepada seluruh warga Polewali Mandar dan warga Sulawesi yang berada di Polewali Mandar, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Nabire dan dimanapun berada. Kami berdoa semoga arwahnya diterima oleh ALLAH, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup ini. Dan kami berharap semoga permohonan maaf kami dari lubuk hati yang terdalam ini dapat diterima.

    (2) Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga menyampaikan TURUT BERDUKA CITA atas meninggalnya almarhum DEMIANUS MOTE. Semoga arwahnya diterima oleh ALLAH, Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkannya diberi penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup ini.

    (3) Perlu diklarifikasi dan dipertegas mengenai satu hal yang simpang siur dan tidak benar, bahwa pengeyorokan dan pebunuhan terhadap sopir YUS YUNUS bukan sebagai upaya balas dendam atas kematian BABI, karena para pelaku yang melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap YUS YUNUS tidak mempersoalkan kematian babi. Tetapi hal ini karena tersulut emosi melihat kematian DEMIANUS MOTE yang DICURIGAI ditabrak oleh truk. Sehingga diharapkan untuk tidak mengembangkan dan menyebarluarkan isu seolah-olah nyawa babi dibalas dengan nyawa manusia. Sekali lagi saya pertegas bahwa ini tidak benar!

    (4) Beberapa pihak mempunyai pemahaman dan kronologis yang berbeda-beda mengenai masalah ini, dan perbedaan itu menyebabkan tanggapan yang berbeda-beda pula. Untuk itu, agar masalah tidak menjadi simpang siur dan agar menjadi terang-benderang sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya, maka kami mempercayakan pihak berwajib (kepolisian) untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah ini. Dan diharapkan hasil penyelidikan secara baik dan benar itulah yang perlu dipercayai.

    (5) Pemerintah Kabupaten Dogiyai tidak mengharapkan masalah ini membesar, meluas dan menyimpang dari kejadian yang sebenarnya. Perlu dipahami bersama bahwa masalah ini tidak ada kaitan dengan kepentingan politik, rasisme, agama, suku, kepulauan dan lainnya. Dan juga ini bukan masalah antara orang Dogiyai dengan orang Polewali Mandar atau masalah antara orang Papua dan orang non-Papua. Masalah ini murni kecelakaan lalu lintas dan kriminal. Karena itu dimohon untuk tidak mengaitkan masalah kecelakaan lalu lintas dan kriminal ini dengan masalah politik, rasisme, agama, suku, kepulauan, dan lainnya.

    (6) Pemerintah Dogiyai MEMOHON semua pihak, terutama pihak korban dan pelaku untuk MENAHAN DIRI dan TIDAK MELAKUKAN AKSI BALAS DENDAM atas permasalahan ini. Semua pihak harus menyerahkan penyelesaian masalah ini melalui proses hukum.

    (7) Pemerintah Kabupaten Dogiyai mendukung seluruh proses penyelidikan terhadap masalah ini, yang sedang dilakukan oleh pihak berwajibn (POLSEK Kamu, POLRES Nabire dan POLDA Papua). Diharapkan kepada semua pihak juga untuk mendukung proses hukum ini.

    Demikian pernyataan yang dapat kami sampaikan dengan maksud agar masalah ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Terimakasih.

    Kigamani, 28 Februari 2020

    Bupati Dogiyai,
    YAKOBUS DUMUPA, S.IP

    , ,

    PANGKAL PINANG, ARUSMUDA.COM - Sikap tegas ditunjukkan tokoh ulama dari Fak fak, Papua Barat, KH. Fadzlan Garamatan dalam sidang pleno pembuka di hari kedua berlangsungnya Kongres Umat Islam Indonesia (KUII)-VII, Kamis, 27 Februari 2020 di Ballroom Novotel, Pangkal Pinang, Bangka-Belitung.

    Dalam sesi diskusi sekaligus tanya-jawab yang menghadirkan pemakalah KH. Ahmad Ishomuddin, M.Ag, sebagai narasumber pengganti KH. Said Agil Shiradj selaku Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tidak hadir, Ustaz Fadzlan terpaksa meminta narasumber untuk menyudahi pemaparannya menjelang akhir sesi.

    Pasalnya, ungkap Ustaz Fadzlan, dalam membacakan makalahnya narasumber banyak menyebut istilah dan labelisasi, serta stigma yang menyudutkan sesama ormas Islam sendiri. Bahkan, Rais Syuriah PBNU itu, dengan nada cenderung membela, menceritakan alasannya ketika diminta menjadi saksi ahli yang meringankan mantan Gubernur DKI yang saat itu didakwa sebagai pelaku penista agama.

    Dalam kesempatan tanya-jawab itu, Ustaz Fadzlan sudah beberapa kali meminta ke arah pimpinan pleno, untuk menginterupsi pemaparan argumentasi narasumber, namun tidak diakomodir.

    Akhirnya ia terpaksa berkata lantang dari arah belakang ruang sidang, agar sesi pemaparan disudahi dan argumentasi narasumber tidak perlu dilanjutkan lagi. Lantaran sangat berpotensi memanaskan suasana ruang pleno di pagi hari itu.

    Sebelumnya, seorang peserta yang mengaku dari ormas Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), juga sudah meminta klarifikasi kepada narasumber, kenapa dalam paparan makalahnya dengan menyebut nama MMI dan ormas Islam lainnya, seperti FPI (Front Pembela Islam), dengan labelisasi yang tendensius. Seperti istilah ‘Islam Radikal’, ‘Islam Fundamental’, ‘Islam Garis Keras’, dan lainnya.

    Setelah sesi diskusi ditutup pimpinan pleno beberapa menit kemudian, Ustaz Fadzlan pun menjelaskan kepada wartawan tentang sikap tegasnya itu. Menurut ulama yang juga menjabat Sekretaris di Komite Dakwah Khusus (KDK) MUI Pusat, tidak sepantasnya narasumber beragumentasi dengan narasi yang bernada sinis dan tendensius terhadap sesama ormas Islam.

    “Apalagi sampai menceritakan dirinya ikut membela seorang pelaku penista agama,” katanya. Pasalnya, selain kasus tersebut sudah berlalu dan perkaranya sudah berketetatapan hukum tetap di persidangan.

    Selain itu, nama “sang penista agama” juga masih tergolong sensitif di telinga sebagian besar peserta kongres. Terbukti, saat Ustaz Fadzlan meminta agar sesi tersebut disudahi, mayoritas para peserta pun bertepuk tangan mendukung interupsi tegas Ustaz Fadzlan.

    Ulama yang selalu berpernampilan khas dengan jubah kharismatik dan sorban imamahnya ini pun menjelaskan, sejatinya dirinya tidak sedang marah saat bersuara keras dari arah belakang  ruang pleno, saat menjelang diskusi berakhir.

    “Sejatinya saya tidak marah. Memang beginilah gaya orang Papua bicara. Sebenarnya saya hanya ingin bersikap tegas terhadap semua narasi-narasi yang cenderung membangkitkan emosi umat dan berpotensi memecah belah antar sesama umat Islam,” jelasnya.

    Sebab, lanjut ulama bergelar Ustadz Sabun Mandi lantaran pernah mengislamkan sekaligus 12.372 orang warga asli Papua di Kab. Wamena, tidak banyak orang di Nusantara ini yang mengalami langsung kerasnya tantangan berdakwah di pedalaman hutan belantara. Agar orang-orang suku pedalaman Nuu Waar (Papua) mau menerima hidayah Islam untuk mengenal nama Allah dan Rasulnya.

    “Sampai sekarang saya masih berusaha merangkul mereka dalam cahaya Islam dengan pendekatan sosial-budaya dengan biaya yang tidak sedikit,” katanya. “Lalu tiba-tiba ada pihak yang mengaku ustadz dan ulama di perkotaan, dengan mudahnya ingin memecah-belah mereka dengan narasi dan labelisasi yang cenderung menyesatkan umat.

    Karenanya, Ustaz Fadzlan pun menegaskan, agar nilai spirit  kebersatuan umat Islam, harus terus dinarasikan di tengah forum kongres ini. “Jadikan selalu konsep kebersatuan umat Islam, sebagai landasan pemikiran para nara sumber juga peserta, di dalam menyampaikan narasi pemikirannya,” tambahnya.

    Jangan sampai, lanjut Pengasuh Ponpes Nuu Waar yang membina para santri khusus asal Papua secara gratis ini, di kongres ini ada narasumber yang narasi serta bangunan argumentasinya, justru ingin memecah-belah umat. “Apalagi dengan istilah dan stigma negatif terhadap kelompok sesama Islam yang seakidah,” tandas Ustaz Fadzlan.

    Karena, menurutnya, narasi sinis yang sangat tendensius kepada ormas di luar organisasinya, hanya akan melahirkan pengkotak-kotakkan sesama umat Islam sendiri. “Ini jelas akan membangun pontesi konflik di masa depan. Lantas, kapan kita bisa maju kalau begini terus!” pungkas Ustaz Fadzlan.

    , ,

    MAKASSAR, ARUSMUDA.COM - Garda Nusantara Preneur Sulsel sebagai organisasi yang konsern pada isu kewirausahaan diharapkan bisa mendorong terbangunnya jiwa pengusaha di wilayah kampus dan para pemuda milineal.

    Hal tersebut disampaikan oleh Harianto Albarr saat menjadi narasumber dalam TalkShow yang digelar oleh Pengurus Garda Nusantara Preneur Sulsel di Red Corner Coffe Makassar, kamis (27/02/2020).

    “Garda Nusantara Preneur ke depan buka kan kegiatan mengenai sekolah leadership karena kita kekurangan dalam hal itu." Harap Harianto Albarr.

    Harianto juga mengajak aktivis Garda Nusantara Preneur agar memikirkan dan membuka kan ruang peningkatan mengenai pertanian untuk ekspor.

    "Bagi para pemuda milienal yang ingin mengekspor hasil tani maka ada aksesnya, nanti kita akan diskusikan." Pungkasnya.

    Selain Harianto, kegiatan yang mengangkat tema "Change The Mindset The Become An Entrepereneur" ini juga menghadirkan Ketua Umum Garda Nusantara Preneur Sulsel, Yustrapman Yunus.

    Yustpratman mengharapkan Garda Nusantara Preneur bisa menjadi wadah untuk  menciptakan karya dalam bidang usaha agar ada peningkatan ekonomi di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan.                 

    "Mari bersama kibarkan bendera kita, Garda Nusantara Preneur Sulsel dengan karya dan usaha," harapnya kepada seluruh peserta talkshow.

    , ,

    PANGKAL PINANG, ARUSMUDA.COM - Wakil Presiden RI, KH Ma'ruf Amin, mengatakan, umat Islam belum menemukan figuritas yang tepat terkait sosok imamah (pemimpin) untuk menahkodai perjuangan dan gerakan umat Islam. Hal itu disampaikan Ma'ruf saat berdiskusi dan silaturahmi peserta Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-7 dengan Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan di Rumah Dinas Gubernur, Pangkal Pinang, Bangka, Rabu (26/2).

    "Jika dulu kita mempersoalkan kesepakatan, perlu adanya imamah, memang itu perlu. Tapi, saya rasa sampai sekarang kita belum mendapatkan imamah sakhsiyyah lil muslimuun (sosok pemimpin pribadi umat Islam)," kata Ma'ruf.

    Oleh karena itu, dia berkelakar, pada KUII ke-6 di Jogja 2015 silam, disepakati imamah institusionaliyah (pimpinan kelembagaan). "Apa itu, yaitu Majelis Ulama Indonesia," ujarnya.

    Menurut dia, MUI memiliki tanggung jawab menyatukan umat Islam sebagai satu kekuatan dalam berperan besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Jadi, yang paling penting sekarang bagaimana menyatukan umat Islam agar satu visi," kata dia.

    MUI, lanjutnya, memiliki peran besar dalam menyatukan visi dan langkah umat Islam ke depan dalam berbagai sektor. Dia meyakini, umat Islam merasa belum puas dalam berperan besar di negeri ini.

    "Karenanya, kita seringkali disebut besar di jumlah, tapi perannya kecil," ujarnya.

    Termasuk dalam politik, umat Islam masih belum  bisa bersatu dalam satu visi yang sama. Ia menyampaikan, umat Islam tidak bisa merebut kekuasaan. Akan tetapi, berkontribusi dalam kekuasaan untuk memperoleh kepercayaan, dimana nantinya umat Islam akan mendapatkan kepercayaan semestinya.

    "Sebab, jika kita ambil kekuasaan dengan cara merebut, maka tatanan akan rusak. Tentu perlu ada pembangunan penguatan umat dan perbaikan umat," katanya.

    Dia berpendapat, sebenarnya banyak tokoh Islam berperan besar di negeri ini. Namun, dinilai bukan bagian dari representasi umat, sehingga diperlukan langkah agar umat ini dalam pengaruh yang besar.

    "Kami di Majelis Ulama belum mampu membuat itu semua terjadi. Makanya, kita kembali bahwa nahnu muslimuun wa nahnu Indunisiyyun (kami seorang muslim dan kami masyarakat Indonesia)," katanya.

    Karenanya, gerakan keumatan jangan dikesankan seperti sedang berperang, berhadap-hadapan dengan musuh, apalagi jika diiringi dengan doa-doa perang. Kongres ini, jelas dia, punya peran strategis dalam rangka mencari makharij wathaniyah (solusi kebangsaan) dan makharij Islamiyah (solusi keislaman).

    "Peran kita bukan merebut kekuasaan, tetapi bagaimana berpartisipasi. Sehingga peran itu akan diberikan kepada kita secara sukarela," tuturnya.

    , ,

    PANGKAL PINANG, ARUSMUDA.COM - Anggota Dewan Pengarah Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-7,  Ustaz Zaitun Rasmin menekankan, ruh dari kongres ini ingin meneguhkan ideologi pancasila yang sekarang terkesan ditarik-tarik menuju arah liberal dan sekuler. Pihak yang ingin Pancasila islami, menurut Zaitun, hanya alasan saja.

    "Sehingga undang-undang kita mau dijadikan liberal, ekonomi liberal dan sistem lainnya bertentangan dengan pancasila," ujarnya saat diwawancara, usai pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-7, di Pangkal Pinang, Bangka, Rabu (26/02/2020) malam.

    Ketua Umum Wahdah ini menyebutkan, pancasila adalah warisan luhur para pendiri bangsa. "Tapi kita juga tidak mau bernostalgia,  bagaimana pengamalannya? Bagaimana keadilan  ekonomi? Ini yang masih jauh panggung dari api," katanya.

    Mengenai masalah yang akan dibahas pada kongres ini, menurut dia, sesuai dengan kebutuhan keumatan. Selain hal-hal mendasar, KUII juga membahas hal yang aktual.

    "Misalnya hukum, omnibus law kita bahas. Hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas ini kita bahas. Jangan sampai ada diskriminasi hukum," tuturnya.

    Memastikan hasil KUII ke-7 ini akan dilaksanakan oleh Badan Pekerja Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kongres ini, kata dia, untuk melengkapi rekomendasi kongres-kongres sebelumnya.

    "Kita ingin meneguhkan bahwa kongres ini sangat penting untuk musyawarah. Jadi, kekurangan-kekuranga sebelumnya kita perbaiki disini termasuk setelah kongres nanti ada Badan Pelaksana," kata Zaitun.

    , ,

    JAKARTA, ARUSMUDA.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Sulawesi Selatan (PB IKAMI Sulsel) periode 2020-2022, Rahmat Al Kafi mengungkapkan bahwa organisaai yang dipimpinnya siap menjadi duta promosi Pariwisata dan Kebudayaan Sulsel di Seluruh Indonesia.

    Hal tersebut diungkapkan oleh Rahmat sesaat setelah dirinya melantik 165 jajaran pengurusnya di Auditorium Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yang dirangkaikan dengan pagelaran budaya, Rabu (25/02/2020) malam.

    “Pagelaran Budaya ini juga untuk mengirim sinyal kepada Pemprov Sulsel bahwa IKAMI Sulsel siap menjadi duta promosi Pariwisata dan Kebudayaan Sulsel di Seluruh Indonesia." Tegas Rahmat di hadapan Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman yang turut menghadiri acara tersebut.

    Lanjut Rahmat, "Pemprov Sulsel akan terbantu dengan adanya IKAMI Sulsel yang memiliki banyak cabang di Indonesia. Sama seperti KKSS."

    Kegiatan yang mengusung tema ‘Menjunjung Langit Negeri’ dipilih untuk memantik masuknya era baru IKAMI Sulsel setelah periode kepengurusan sebelumnya hampir tanpa kegiatan.

    Rahmat optimis dengan jajaran yang baru dilantik saat ini. Hal ini karena tingginya antusiasme mantan Pengurus Cabang yang siap menjadi Pengurus Besar.

    “Kami merangkaikan kegiatan pelantikan bersama dengan pagelaran budaya Sulsel untuk menjadi langkah baru kebangkitan Ikami Sulsel setelah satu periode sebelumnya mati suri,” seru Rahmat.

    Dirinya berharap kader menjalankan roda-roda organisasi berdasarkan atas asas dan semangat kekeluargaan. Ia berharap para kader menanamkan jiwa kepemimpinan demi mencapai tujuan organisasi asal Sulawesi Selatan itu.

    “Semoga di kepengurusan kami ini, kontekstualisasi dari tema Pelantikan Menjunjung Langit Negeri bisa terealisasi,” pungkas Rahmat.

    , ,

    BARRU, ARUSMUDA.COM - Ketua DPD KNPI Kabupaten Barru, Kaharuddin Palemmai mengungkapkan bahwa kemajuan Barru harus menjadi mimpi bersama, sehingga Barru bisa menjadi daerah terdepan di Sulsel.

    “Peran pemuda harusnya lebih responsif dalam mengambil peran strategis dalam pembagunan, demi kemajuan daerah, Mimpi kita bersama Barru terdepan di Sulsel,” katanya.

    Hal tersebut diungkapkan Kaharuddin sebagai bahan refleksi bersama bagi seluruh komponen warga Barru dalam menyambut Hari Jadi Kabupaten Barru ke-60 tahun 2020.

    Kaharuddin yang juga akrab dipanggil ippong ini mengajak seluruh elemen masyarakat barru untuk menjadikan Hari Jadi Barru Ke-60, sebagai momentum untuk menyamakan visi, misi dan persepsi untuk membangun Kabupaten Barru.

    “Jadikan momen Hari Jadi Barru sebagai momentum meningkatkan persatuan dan kesatuan masyarakat Barru. Berapa tahun terakhir Kab. Barru mengalami banyak perubahan, meskipun saat ini masih ada yang perlu diperhatikan agar lebih baik lagi ke depan." Ujarnya.

    Setelah Diresmikannya, Mall Pelayanan Kab. Barru (MPP Masiga) oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo, maka Kab. Barru masuk sebagai kabupaten yang begitu cepat dalam pembagunan serta pelayanan.

    Dengan lancarnya pembangunan infrastruktur tersebut, lanjut Kaharuddin, maka roda perkembangan ekonomi masyarakat akan berjalan dengan lebih baik termasuk dalam hal investasi.

    “Semoga Barru maju terus di masa yang akan datang, Barru masih butuh pemimpin yang merakyat bersama rakyat,” tutupnya.

    , ,

    JAKARTA, ARUSMUDA.COM - Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Sulawesi Selatan (PB IKAMI Sulsel) periode 2020-2022 resmi dilantik.

    Di hadapan Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman yang turut hadir di acara pelantikan, Ketua Umum PB IKAMI Sulsel Rahmat Al Kafi melantik 165 jajaran pengurusnya.

    Selain Wagub Sulsel, pelantikan yang berlangsung di Auditorium Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Rabu (25/02/2020) malam, juga dihadiri Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Faisal Abdullah, Kepala Kesbangpol DKI, dan Pengurus DPP KKSS.

    Dalam Sambutannya Wagub Sulsel meminta kader IKAMI Sulsel untuk terus berkarya, baik di tanah rantau maupun di tanah Sulawesi agar mampu menjawab peluang dan tantangan perkembangan zaman.

    “Sebagai generasi muda Sulawesi Selatan harus memiliki skill dan kapasitas untuk menghadapi industri 4.0, yang dibutuhkan di era saat ini adalah kemampuan menguasai dan mendalami salah satu spesifikasi keilmuwan,” harap Andi Sudirman.

    Bagi Andi Sudirman, kemampuan kepemimpinan bagi mahasiswa sangat penting sebagai bekal jika kelak pulang mengabdi di tengah masyarakat. Kemampuan itu bisa diperoleh dengan aktif dalam sebuah organisasi.

    Pada kesempatan tersebut, Andi Sudirman Sulaiman menyitir sebuah petuah Bugis dan agar meminta PB IKAMI Sulsel dan mahasiswa Sulsel di perantauan untuk selalu semangat dan menanamkan pada diri falsafah tersebut.

    "Lao sappa deceng, lisu mappideceng, artinya, pergi mencari kebaikan dan pulang membawa kebaikan,” pungkas Andi Sudirman.


Top