Bincang Budaya Pro4 RRI Makassar Bahas Eksistensi Aksara Lontara dan Bahasa Daerah


MAKASSAR, ARUSMUDA.COM -
Eksistensi aksara Lontara dan bahasa daerah mendapatkan tantangan berat di era modern. Di tengah belitan belukar mayantara, generasi muda Bugis Makassar seperti tak lagi tertarik mempelajari aksara lontara dan bertutur dengan bahasa daerah. 

Tak hanya itu, masuknya pelajaran aksara lontara dan bahasa daerah menjadi konten pendidikan kita juga seperti dipandang sebelah mata. Kondisi ini mendapat perhatian khusus dari segmen acara Nusantara Siang Pro4 RRI Makassar. 

Pada sesi Bincang Budaya, Senin (31.01.2022) siang, Pro4 RRI Makassar menghadirkan Firmansyah Demma, Ketua Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin untuk membincang tema 'Aksara Lontara dan Bahasa Daerah: Eksistensi dan Relevansinya di Era Modern'. 

Dalam acara yang dipandu oleh Dwie Kartika Sari, kepada pendengar, Firmansyah mengungkap bahwa aksara lontara memiliki peran strategis dalam proses transformasi khasanah pengetahuan masa lalu Bugis Makassar ke era modern. 

"Selain sebagai warisan kebudayaan kita, dengan aksara lontara kita bisa membaca dan memahami artefak peradaban kita, sehingga akasara lontara ini menjadi jembatan ke masa lalu." Ungkap Firmansyah. 

Selain itu, untuk menjaga eksistensi aksara lontara, Firmansyah mengusulkan agar proses digitalisasi kebudayaan, termasuk aksara lontara harus terus digalakkan. Selain bahwa aksara lontara sudah bisa digunakan di komputer atau telepon genggam, juga perlu mendigitalisasi kitab-kitab lontara. 

Terakhir, Firmansyah berharap pemerintah bisa terus memasyarakatkan penggunaan aksara lontara dengan kembali menggalakkan penggunaan aksara lontara untuk penulisan nama jalan, nama gedung, atau tempat-tempat strategis, sehingga masyarakat tetap merasa dekat dengan aksara warisan leluhurnya.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top