Studi Kritis Kebudayaan Dalam Konsep Society 5.0

OPINI, ARUSMUDA.COM - Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan teori industri 4.0, di mana gejalanya mengekspansi setiap ruang berpikir manusia, terbukti dengan 'urban gadget era', era saat semua orang berkehendak, setiap tangan mampu menggenggam dunia.

Lantas apa korelasi dari sebuah subjektivikasi si revolusi industri 4.0 ini, oke lebih baik kita tanggalkan dulu yang demikian. Urusannya hanya sesimpel teorinya.

Kembali di Society 5.0, itu bukan lagi modal, tetapi data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung. 

"Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, akan mencapai desa-desa kecil di wilayah Sub-Sahara," ujar Abe. 

“Tugas kita jelas. Kita harus membuat data sebagai penghambat kesenjangan yang besar,” tambahnya.

Society  5.0 diusulkan dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 sebagai masyarakat masa depan yang harus dicita-citakan oleh Jepang. Ini mengikuti tahapan masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society 2.0), masyarakat industri (Society 3.0), dan masyarakat informasi (Society 4.0).

Dalam masyarakat informasi (Society 4.0), berbagi pengetahuan dan informasi lintas bagian tidak cukup, dan kerja sama itu sulit. Adapun Society 5.0 mencapai tingkat konvergensi yang tinggi antara ruang maya (ruang virtual) dan ruang fisik (ruang nyata).

Dalam Society 4.0, orang akan mengakses layanan cloud (basis data) di dunia maya melalui Internet. Di Society  5.0, sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya.

Di dunia maya, data besar ini dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI), dan hasil analisis diumpankan kembali ke manusia dalam ruang fisik dalam berbagai bentuk, sebagaimana pernah dirilis di Koran Tempo.

Benarkah kita sudah masuk di era tersebut, menariknya para penikmat bacaan klasik, lebih condong memikirkan delusi-delusi tanpa memperhatikan psikologi industri, yang rentan menjadikan diri tak sadar, membungkam dan menutup mata dalam inovasi berbau teknologi.

Kaum muda kontemporer sekadar paham bagaimana membesaran volume dan mematikan ponsel pintar, padahal kaum muda dan mahasiswa harus paham banyak soal 5G algoritma, serta yang jauh tiga langkah ke depan dari big data yang mereka sebut blokchain, mengapa mereka luput. 

Mirisnya, ketika dikaji, fanatisme multi kulturalnya justru memandang bahwa ini mimpi buruk. Al hasil, finalti tidak masuk dalam hitungan gol oleh wasit.

Samsuryadi Al Barru. Ketua Umum Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Kab. Barru.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top