Sikapi Permenristekdikti 55/2018, Enam OKP Di Barru Sepakat Bentuk Forum OKP

BARRU, ARUSMUDA.COM - Enam Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Kabupaten Barru, yaitu Pemuda Muslimin Indonesia, PMII, IMM, Kerukunan Mahasiswa Barru, HMI MPo dan Komunitas Gusdurian sepakat membentuk forum OKP, ahad (24/03/2019) malam.

Kesepakatan itu diambil oleh setelah perwakilan keenam OKP menggelar diskusi menyikap Permenriatekdikti Nomor 55 Fahun 2018 di kantor HMI MPO Jl. A.M. Akbar, Kota Barru.

Diskusi yang difasilitasi oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia ini menghadirkan lima Ketua OKP, yaitu Herdi (PMII), Junaidi (IMM), Arasy (Kerukunan Mahasiswa Barru), Muh. Iqbal (HMI MPO) dan, Muh. Suryadi (Gusdurian).

Dalam diskusi tersebut, Junaidi menyampaikan bahwa ada banyak hal mengapa organisasi ekstra kampus boleh masuk kampus kembali, salah satunya persoalan pragmatisme mahasiswa yang outputnya hanya sebatas kerja dan sangat minim ke arah keilmuan.

"Kita harus mengapresiasi Permenristekdikti." Tegas Junaidi.

Sementara Herdi mengatakan, dengan keterbukaan yang diberikan Permeristekdikti hari ini memberikan kita banyak peluang untuk merekrut kader.

"Tinggal tehnik dan strategi kita ke depan harus dipermantap, karena pada dasarnya Permen ini memang harus perlu karena kampus tidak mungkin bisa sendiri mempertahankan ideologi mahasiswa." Ungkap Herdi.

Lanjutnya, kini banyak kajian-kajian muncul dengan dibalut Islam yang menolak pancasila sebagai ideologi negara.

Ketua HMI MPO, Muh. Iqbal mengatakan bahwa peluang ini sudah terbuka lebar, tinggal kita bergerak dan kembalikan paradigma bahwa mahasiswa itu adalah tempat kita ditempa dengan berbagai dinamika.

Arasy juga menyampaikan dengan hadirnya permenristekdikti no 55tahub 2018, juga lahirnya Unit Kegiatan Mahasiswa Pendalaman Ideologi Bangsa (UKM PIB) nantinya akan melibatkan seluruh stakeholder untuk dibina dalam UKM ini.

"Rasanya memang kultur budaya mahasiswa sebagai agen of change sudah memudar, seharusnya kita bangun dari mimpi yang panjang atau kembali tidur untuk melanjutkan mimpi." urai Arasy.

Senada dengan pernyataan Herdi, Muhammad Suryadi mengatakan di era 4.0 ini kita bisa mengkategorikan mahasiswa memasuki post independensi, di mana banyak mahasiswa terjun benas di ranah politik praktis, itulah sebab mengapa nilai pragmatis itu muncul.

Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia, Samsuryadi menyimpulkan bahwa mahasiswa wajib melawan ideologi yang merongrong NKRI, dan mengajak peserta untuk memassifkan gerakan.

Rencananya, forum OKP yang mereka bentuk akan menggelar diskusi rutin minimal tiap bulan.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top