Bercakap Dengan Perempuan Di Penghujung Pagi

CERPEN, ARUSMUDA.COM - Satu jam lewat 30 menit telah berlalu. Menunggu kedatangan dosen pengampu menuai kekecewaan. Tak ada kejelasan. Konfirmasi menjadi penantian sedari awal jam kuliah. Bincang-bincang ringan menambal torehan kekecewaan di penghujung pagi itu.

Beberapa mahasiswa mulai meninggalkan ruang kuliah. Silih berganti. Mimik muka mereka memancarkan kemurungan. Sebagian yang lain menampilkan wajah berseri, terselip dalam wajah kemurungan.

Seperti biasanya, kaum civitas academica ini tidak meninggalkan ruangan tanpa sisa. Ada saja tersisa penikmat ruang kesunyian.

Enam mahasiswa bertahan dalam ruangan, membuang harapan akan kedatangannya. Nampaknya pemuda ini sekedar mendinginkan tubuh, menikmati layanan Air Conditioner. Di luar panas oleh sengatan matahari, terlebih mereka yang tidak memiliki desakan aktivitas.

Tiga mahasiswa, baru saja memasuki ruangan. Mungkin kepanasan di luar. Mereka menyebar, mencari keheningan dan kedinginan. Tak ada kata yang jatuh.

Genaplah menjadi sepuluh pemuda tersisa, termasuk aku, tak ada isyarat untuk hengkang meninggalkan ruangan. Meskipun terdapat tambahan tiga mahasiswa, kesejukan ruangan tak berkurang. AC tetap saja melayani tuannya tanpa keberatan.

Mereka bersantai dengan layar kecil yang menerangi sepasang bola matanya. Semua kelihatan sopan, sedari tadi hanya menunduk.

Boleh jadi mereka sedang memperagakan budaya mappatabe' di kalangan suku Bugis. Orang Bugis, dulu menunduk (mappatabe') sambil menjulur tangan kanan ke bawah, jika hendak berjalan di depan seseorang.

Budaya khas itu mungkin telah dimassifkan oleh para keturunannya yang sedang terkungkung dalam zaman milenial. Termasuk mahasiswa. Menunduk sebagai identitas kesopanan tetua suku Bugis. Kini di zaman now hampir diperagakan di setiap ruang dan waktu, berkhidmat dengan layar gadget.

“Bagaimana pendapat orangtua tentang mahasiswa?” Begitulah pembuka percakapan di tengah kebisuan yang panjang. Saya duduk paling belakang. Cukup lama memperhatikan aktivitas mereka sebelum akhirnya pertanyaan itu saya keluarkan untuk mematahkan keheningan.

“Pasti bangga anaknya kalau kulilah,” jawab ringkas perempuan berbaju merah sewarna dengan jilbabnya. Badannya mulai memutar 95 derajat ke sisi kiri, mencari sumber suara. Barangkali benar mitos lekatan keberanian disimbolkan dengan warna merah. Buktinya, dia berani memecahkan kesunyian bersama dengan pertanyaanku.

Gadgetnya masih hangat dalam pelukan tangan mungilnya. Matanya agak mulai menghiraukannya.

“Biasa orang di kampung na cerita terus ana’-nya yang kuliah. Na bangga-banggakanki ” sambung seorang perempuan berbaju hitam yang bertabur bintik putih di atasnya seperti bercak bedak bubuk. Pas duduk bersebelahan si perempuan serba merah. Tubuhnya baru saja ia balikkan menghadap ke arah singgasanaku.

Ketujuh mahasiwa yang lain, masih saja berkhidmat dengan selulernya. Sesekali terpancing untuk berargumentasi.

Kedua mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) ini memiliki usia tidak lagi mudah, telah menumpuk. Namun daya indra mengingkari usianya. Banyak teman perkuliahan yang bilang, mereka masih cocok duduk di bangku Sekolah Manengah Atas (SMA). Postur tubuhnya berdua yang pendek berkisar 155 cm dengan berat kisaran 45 kg, dan rupa imut seperti bayi tak berdosa melekat pada raut wajahnya barangkali dasar bangunan argumentasi demikian. Kedua gadis ini aktif dalam pelibatan diri pada ruang perkuliahan dan kerja-kerja keorganisasian.

Hampir dua periode kepenguruan mereka lakoni sebagai pengurus. Sementara periode 2018-2019 mereka terlibat aktif sebagai aktor sentral pada lembaga tingakat Jurusan/Prodi ini, namun tidak membuat dirinya khianat pada mata kuliahnya. Jika mereka bertahan sampai bulan April di HIMA Sosiologi FIS UNM Periode 2018-2019, maka genaplah dua periode itu.

Si perempuan berbaju merah sementara menjabat sebagai Ketua Bidang Keperempuanan. Di sebelahanya, motif pakaian bercak bedak bubuk ini mengemban amanah mengatur arus keuangan lembaga yang belakangan disebut Bendahara.

Sewaktu saya masih menjabat Ketua Bidang Penalaran dan Keilmuan, sebelum akhirnya di dorong sebagai delegasi lembaga naik pada tingkat Fakultas. Mereka kerap meramaikan Kajian Keilmuan (Program kerja unggulan serta andalan Bidang Penalaran dan Keilmuan) bersama mahasiswa baru 2018 di taman hijau depan perpustakaan. Program itu sudah usai setelah berlangsung kurang lebih tiga bulan. Pelaksanaannya 2 sampai 3 kali pertemuan dalam sepekan pada semester ganjil lalu.

“Bagi dirimu sendiri, apa itu mahasiswa? Maksudnya yang kau pahami di luar pengaruh atau konstruksi orang tua,” dengan kembali menyodorkan pertanyaan. Pertanyaan tulus ini kuperuntukkan terhadap semua mahasiswa yang masih berada dalam ruangan.

Namun, sebagian tetap terkatup dengan biusan gadget masing-masing, selebihnya menoleh menyaksikan tanpa argumentsi. Kecuali kedua gadis perempuan yang sedari tadi mengoceh menghantam pertanyaanku.

“Mahasiswa itu ilmunya tinggi,” cetus sang bendahara melombai perempuan dari Kabupaten Maros di sebelahnya.

“Berarti mahasiswa maki ini?” Tanyaku cepat sebelum ada tanggapan lain menyela.

Casing-nya ji, namanya ji mahasiswa,” jawabnya sambil ketawa cengengesan. Mahasiswa dari Sidrap ini pernah ketahuan menorehkan air mata di ruang perkuliahan saat dosen pengampu usai menghidangkan materi kuliah. Ia mengeluhkan sulitnya melewati rentetan rekrutmen salah satu UKM bergengsi di UNM (LPM Penalaran UNM), kurang lebih memakan waktu 90 hari. Saat itu perjalanannya tinggal beberapa langkah mencapai garis akhir. Perempuan tanpa kerudung ini mendaftar dengan lima orang temannya. Hanya tiga orang berhasil lolos dan dikukuhkan sebagai anggota baru, termasuk dirinya.

Gelak tawa tak dapat dibendung oleh khalayak yang sedari tadi menguping setelah mendengar kata, casing-nya ji mahasiswa.

Tawa riuh memantul di dinding-dinding tembok ruangan.

“Terus kenapa harus jadi mahasiswa? Kenapa tidak jadi apa begitu, nikah mungkin.”

Bagi orang tua mereka, kuliah suatu pekerjaan terhormat. Anjuran pertama setelah menamatkan pendidikan sewaktu berada di Sekolah Manengah Atas (SMA) adalah kuliah. Tak terpikirkan jauh untuk menikah.

Rasa penasarannya pada sosok mahasiswa di FTV membawanya berimajinasi melampau batas nalarnya. Kini mereka telah menjadi mahasiswa. Cerita FTV terlalu jauh menyesatkan mereka dan umumnya mahasiswa sosiologi dalam beberapa kali perbincangan tempo lalu. Kebenaran itu masih bertahan sampai sekarang.

“Kuliah mako dulu, jangan langsung menikah. Kalau semisal langsungko menikah tidak ada nilai jualmu, tidak nahargaiko laki-laki. Tidak naanggapko orang-orang,” beber perempuan asal Maros ini yang di sapa Tuti Alwiah dalam pengabsenan perkuliahan. Wiya dengan logat serta mimik rupa meniru semirip mungkin orang tuanya saat kalimat itu dipersaksikan untuknya yang baru saja kalimat itu ia persaksikan kepada kami.

“Oh, begitu? Intinya haruski' kuliah supaya mahalki nanti hargata' dih?” Tanyaku kembali yang menyoal pada kalimat, “Kalau langsungko menikah tidak ada nilai jualmu.”

Gelak tawa membanjiri ruangan dari empat penjuru mata angin. Kelima lelaki paling khusyuk ketawanya, termasuk saya.

Di penghujung tawa, para gadis-gadis angkatan 2016 ini dibuatnya jengkel dengan tawa para lelaki, yang seolah merendahkan yang namanya perempuan. Kekesalan mereka seperti pelangggan bakso yang begitu lapar. Memutuskan singgah di warung bakso, kemudian dihidangkannya bakso dengan mangkok terbalik. Tumpah airnya, menggelinding baksonya.

“Bukan masalah mahalnya, tapi ada nilai jualnya, maksudnya toh bukan harga uang panai,” celoteh mereka bergantian seakan membaca isi kepalaku yang menyoal dengan uang panai. Sudah beberapa kali mereka melihat saya menyoal dengan uang panai. Bahkan sempat saya buatkan sebuah tulisan uang panai yang saya persaksikan di group WhatsAp angakatan kami (Hegemoni) beberapa hari yang lalu.

Bukan substansialnya bahwa subjektivitas saya sebagai laki-laki yang dalam suku Bugis menjadi aktor pengumpul uang panai. Tapi lebih keprihatinan kepada para perawan tua yang tak kunjung diantarkan uang panai. Innalillah.

Di samping itu, saya melihatnya uang panai sebagai transaksi jual beli. Tak ada pembeda dengan komoditas, barang yang diperdagangkan di pasar-pasar, jika uang panai itu dipatok nominalnya oleh satu pihak.

“Sebegitunyakah, tidak ada kepercayaan untuk membiarkan para lelaki membawa dan menetapkan maharnya kepada si perempuan dengan paripurna keikhlasannya?” Gemuruh dalam pikirku meronta-ronta. Mahar kerap kali disamakan uang panai oleh masyarakat suku Bugis, padahal telah ada beberapa tulisan yang menelanjangi perbedaan uang panai di suku Bugis dan mahar dalam konsepsi Islam.

Berusaha tidak berbincang lama pada uang panai, karena mereka si perempuan menampakkan emanasi ketidaksependapatan dengan alam pikirku. Dengan lincah, kutancapkan pertanyaan terakhir sebagai tombak penutup sebelum kumandan azan zuhur keburu mematahkan.

“Kalau semisal tamat maki ini kuliah, mau kerja untuk diri sendiri, bekerja sebagai karyawan perusahaan, atau mengabdi pada masyarakat dalam artian membangun kampungta atau desata'”.

Masuk di PTN dengan menggugurkan ratusan sampai ribuan orang punya tingkatan nilai tersendiri dalam struktur kemasyarakatan. Keseganan lagi penghormatan masyarakat terhadap yang namanya mahasiswa sangat kental, meski mungkin hanya berlaku dulu. Boleh di bilang sosok mahasiswa masih terhitung jari pada pedesaan. Apalagi jika kuliahnya pada Universitas terbaik ke dua di Indonesia Timur (UNM). Konon, disakralkan sebagai pencetak guru-guru handal di Sulawesi Selatan.

Sebagai alumni nantinya, untuk jadi karyawan biasa mungkin tidak begitu sulit. Karyawan di kota-kota seperti Alfamart, Indomart, Alfamidi dkk. rata-rata diisi tamatan SMA. Meskipun ada juga sejumlah kecil mahasiswa, ketika kiriman tidak sebanding dengan pengeluaran. Ataupun berusaha hidup mandiri, tanpa menyusahkan orangtua.

“Kalau napanggilki desata, pulangki bekerja. Karena dekat juga toh dari orangtua,” beber Wiya dengan penuh meyakinkan.

Kedengarannya sederhana, persepsi itu tidaklah memberatkan bagi yang tidak tercandu oleh suasana kota.

“Tapi tidak digajiki, karena tabungan dana desa tidak mencukupi,” memberikan mereka pengandaian kalau semisal kejadian terburuk menimpa seperti itu.

“Banyak yang harus dipikirkan, kalau semisal di kampungki menjadi benalu jaki di dalam keluarga. Tidak mungkin juga meminta uang terus toh?” Sambungnya.

“Berarti jadi karyawanki ini?” Mencoba memperjelas arah perspektifnya.

“Kalau saya perlu sekalipa' memang uang baru saya pilih kerja sebagai karyawan. Karena mendesak sekalima'. Tidak bisama' ngapa-ngapain daripada jadi benalu dalam keluarga," ungkap bendahara umum yang disapa Gyta di kampungnya, begitu seriusanya.

Nampaknya, seisi ruangan bersepakat dengan hal itu.

Di akhir mereka menyambung bahwa tetap akan kembali ke desa membangun kampung jika sudah banyak uang dan sukses.

“ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR..”
“ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR..”
“ASYAHADUANLAILAAHAILLALLAH..”
“ASYAHADUANLAILAAHAILLALLAH..”

Gema azan zuhur menggelegar dari mesjid Nurul Ilmi memasuki ruang BC 101 di gedung Flamboyan, tempat kami sedari tadi menanti penuh harap kedatangan dosen. Suara panggilan ini menghentikan percakapan kami. Bersegera bergegas menuju panggilan-Nya.

Arisnawawi. Mahasiswa Sosiologi UNM, Pegiat Literasi EduCorner


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top