Politik, Pasar dan Perempuan

OPINI, ARUSMUDA.COM - Sejumlah partai yang bertarung di Pemilu 2019 mulai mengencangkan strategi. Berbagai hal dilakukan demi mendulang suara. Salah satu arena kampamye yang disasar adalah pasar.

Sejumlah pengamat menilai metode ini strategis bila dipandang dari sudut analisis sosial politik. Bagaimana model tersebut berlangsung, masing-masing punya cara yang berbeda.

Pasar dan transaksi merupakan bentuk kesatuan. Pasar sebagai ruang transaksi barang dan jasa sudah menjadi makrifat umum di kalangan awam. Namun bagaimana kalau pasar dijadikan sebagai ruang transaksi politik?

Menjelang pemilu, sukar menentukan orang yang  datang ke pasar bermotifkan transaksi barang atau transaksi politik, ataukah malah menyasar keduanya.

Taktik dan strategi caleg di perkampungan sudah dijalankan. Posisi sentralnya ada di tempat publik, salah satunya pasar.

Cerita dari Ibu sehabis berbelanja dari pasar, rupanya sangat menarik kala itu di ruangan dapur. Menariknya bukan tentang barang belanjaanya, banyak dan bobot barang yang ibu dengan empat anak itu bawa pulang.

Tetapi karena ia mendapatkan tanggal gratis oleh seseorang di pasar menjelang pergantian tahun baru 2019. Momentum ini sangat pas menjelang pergantian tahun dan tanggal.

Emanasi kebahagiaan pada raut muka yang sudah menua menjadi objek terindah oleh anak-anaknya dipersinggahan pagi.

Sesuatu yang gratis memang umumnya selalu menggandeng kebahagiaan dan kesenangan. Teruntuk kasus ini, walaupun secara rupiah barangkali tidak terlalu berharga namun memunculkan kesan yang sangat berharga.

Rupanya, cek per cek, tanggal itu ber-background-kan foto caleg yang terpapar dengan senyuman manis lengkap dengan kata-kata magis (janji) dan visualisasi tutorial/prosedur untuk bagaimana mencoblos dirinya dalam pemilu mendatang.

Menjelang pemilu, memang pasar sebagai ruang kampanye politik yang menggugah selera. Di tahun politik ini, diasumsikan pasar bukan lagi sekedar jual makanan atau pakaian dll, tapi fungsi substansialnya sebagai ajang jualan politik.

Seperti ungkapan bapak Jokowi pada Jawa Pos “Jualan produk dan politik itu mirip-mirip, caranya mirip-mirip”. Menurutnya politik dan pemasaran tak banyak berbeda.

Mengapa pasar begitu menarik dijadikan transaksi politik?

Menariknya, karena tempatnya strategis, tempat luas ini dapat menjangkau banyak orang mulai dari kalangan atas sampai pada kalangan bawah. Pasar juga sebagai ranah dan arena interaksi masyarakat dari berbagai kalangan.

Tak perlu susah payah untuk mengumpulkan orang banyak untuk mendengar celoteh kampanye, cukup datang saja ke ruang publik ini.

Dalam penelitian Amelia, dikatakan bahwa masyarakat pada umumnya mengunjungi pasar (tradisional) 2-3 kali sepekan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Artinya, ruang ini bagaikan lalu intas masyarakat dalam perekonomian.

Maraknya perbuatan baik bermotif politik, baik lewat kampanye secara langsung atau lewat perantara. Himbauan dan status waspada bahkan siaga bagi pengunjung yang berberlanja di pasar, utamanya para ibu-ibu/perempuan. Bukan tanpa sebab mengapa perempuan yang menjadi anjuran.

Berikut penjelasannya
Penelitian Bracket dan Mayer menunjukkan perempuan memiliki emosional lebih tinggi daripada laki-laki, artinya lebih mengedepankan perasaan dari pada akal.

Jika menyentuh perempuan dengan perasaan (semisal memberikan tanggal, sarung, baju, dsb, secara gratis, memberi janji dll) maka pengaruhnya besar kemungkinan akan menempel pada benak dan akan di bawanya pada ujung jarum coblos dalam pemilihan mendatang.

Dominasi pengunjung pada pasar juga merupakan perempuan, utamanya pada pasar tradisional. Data dari studi gender dan sosial perhimpunan rakyat pekerja Solo menunjukkan fakta, mayoritas aktor utama dalam sosial-ekonomi di berbagai pasar tradisional di Indonesia, 67% adalah perempuan, perempuan sebagai pedagang, dan pembeli. Fakta ini menunjukkan bahwa di dalam pasar perempuan memainkan peranan penting.

Desas sesus kampanye sangat bisa dihidupkan pula oleh perempuan. Sentral informasi di lorong-lorong, tak lain adalah bibir-bibir perempuan. Informasi yang merembes kemana-mana sebagian besar hasil desas desus, dan isu oleh perempuan.

Informasi politik caleg pun ikut andil dalam perbincangan kaum perempuan karena demokrasi menjamin akan kebebasan itu.

Mendengar kata gosip, entah mengapa hal ini akan membawa kita tentang perempuan. Hasil riset MarkPlus Insight terhadap 1.301 perempuan di kota besar menunjukkan bahwa aktivitas yang biasa dilakukan sebanyak 95,4 persen perempuan bersama teman perempuannya adalah mengobrol/menggosip dibanding aktivitas lain.

Bisa jadi, inilah alasan mengapa persahabatan antara perempuan seringkali diwarnai dengan sesi gosip dan curhat.

Majalah Marketeers menyatakan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk menyebarkan suatu isu dibanding laki-laki. Jadi sifat suka menggosip menjadi keuntungan bagi perempuan untuk berkampanye atau lahan kampanye caleg.

Terlebih pusat informasi secara tradisonal ada pada pasar, sedang pasar di hegemoni kelamin perempuan.

Eksistensi patutnya dipengaruhi oleh sesuatu yang berasal dari penyaringan pikiran lewat akal, bukan retorika hebat yang menindas akal, apalagi janji busuk yang menyenangkan hati
Sikap arif perlu ditanamkan pada diri perempuan.

Sifat manifes merakyat caleg tidak dilihat menjelang pemilu, tapi jauh sebelumnya. Anda baik dan sopan, kami curiga. Anda pasti caleg. Skeptis itu perlu, berburuk sangka, jangan. Perasaan tanpa nalar itu buta, nalar tanpa rasa itu memberontak.

Arisnawawi. Mahasiswa Sosiologi UNM, Pegiat Literasi EduCorner


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top