Viral dan Post-Medsos Era Kompleksitas

OPINI, ARUSMUDA.COM - Mudah saja bagi saya untuk mengetahui bahwa ruang publik lagi menyeruak dan menghangat. Cukup dengan mengecek hape pintar saya apakah dalam keadaan dingin atau panas. Jika benda pintar tersebut panas dan melahap buas daya chargernya hingga lowbat, maka itu penanda bahwa sedang terjadi perang maya berjilid-jilid. Mungkin juga ada konten yang sedang viral, apalagi kalau yang viral ini sudah masuk di panci penggorengan para penjual kepentingan. Ini sekali lagi membuktikan bahwa benda ini benar-benar pintar.

Mengapa gorengan laku meskipun kita tahu bahwa ia kadang tidak sehat dan berminyak? Ya, karena saat merasakan nikmatnya hingga kita lupa sisi negatifnya. Artinya kadang kita tidak sadar sedang menghangatkan perbincangan dengan berkomentar dan membagikan berita. Lucunya lagi, kita menikmati berselancar di media sosial padahal belum tahu persis muara persoalannya.

Media sosial memang tak seru bila tak ada yang viral. Viral akan menandai adanya kehidupan dalam ruang maya. Dengan itu juga medsos menunjukkan eksistensinya melalui partisipasi penduduk maya.

Seperti menjadi kesibukan baru bahwa kita senang mengikuti perkembangan problem yang sedang viral di medsos. Belum hilang hangatnya kasus hoax Ratna Sarumpaet, tiba-tiba kita disuguhkan lagi dengan viralnya video pembakaran bendera berlafaz tauhid oleh Banser. Hanya saja cara mengelola viral kita masih berada pada bagian thumos (rasa) dan minim bermain pada logisticon (akal).

Sehingga boro-boro konten viral membuat kita semakin dewasa dan bijak malahan terkadang kita digerus masuk pada perseteruan dan kebencian. Permainan wilayah thumos memang memantik simpati dan itulah cara bekerja medsos agar ramai.

Hemat penulis, kita tak perlu terburu-buru baper karena sesuatu yang kita resahkan, kecewakan belum tentu terwakili oleh sesuatu fenomena yang kita lihat. Tanda atau simbol yang tampil tak selamanya mewakili makna ideal yang ada di kepala kita.

Di era yang kompleks yang kita butuhkan adalah ketenangan agar kejernihan makna bisa kita tangkap. Sungguh begitu sulit mengurai makna jika kita ikut serta mengaduk air dalam kondisi sedang keruh. Karena bukan berjumpa dengan makna dan kedalaman peristiwa melainkan semakin mengaburkan publik yang sedang memperhatikannya.

Post-Medsos
Saat ini memang semakin perlu adab-adab komunikasi medsos karena ruang ini terlampau padat penghuni. Kepadapatan penghuni medsos juga menjadi isyarat bahwa kita telah tiba pada era pelampauan, termasuk realitas yang melampaui media sosial (Post-Medsos).

Post-Medsos bisa digambarkan bahwa ruang maya bukan lagi sesuatu yang imajiner dan visual semata. Ia tak lagi maya melainkan terisi oleh berbagai realitas sebagai mana realitas nyata. Bahkan lebih nyata dari kehidupan nyata itu sendiri. Ia lebih majemuk dari kemajemukan pada realitas nyata.

Post-media sosial juga ditandai dengan hilangnya batas struktur dan kesakralan sosial. Ruang di mana si miskin bisa sekamar dengan si kaya. Ruang di mana ulama akan diceramahi bahkan dicaci oleh jamaahnya. Tak ada lagi kesakralan kecuali kesakralan tanpa kesakralan.

Post-media adalah gerbang menuju global village oleh Marshal Mc Luhan. Sebagaimana harapan  Habermas terciptanya ruang pubik di mana penghuninya bisa dengan bebas memilikinya. Tak ada lagi sekat di dalamnya, namun cenderung bergerak bebas dan tak terkendali.

Post-Medsos mereproduksi realitas di mana semua individu bisa melampaui identitasnya. Semua tiba-tiba bisa jadi ustaz, filsuf, artis, atau seorang motivator yang setiap hari menyuguhkan kita kata-kata bijak dan mencerahkan. Bahkan tak jarang menjadi hakim secara massal yang memberikan vonis pada orang lain. Meskipun identitas itu hanya akan kita temukan akun media sosialnya.

Post-Medsos bisa membuat satu kebaikan mendapatkan respon pujian terlampau banyak. Namun sebaliknya bagi yang memiliki kesalahan kecil, medsos bisa jadi kuburan bagi dirinya. Artinya orang bisa mendadak beruntung karena diviralkan namun sebaliknya anda juga bisa mendadak celaka seketika. Post-Medsos adalah satu realitas yang menciptakan surga dan neraka dengan satu pintu.

Adab dan perspektif kompleksitas
Penanda kompleksitas selalu memeluk berbagai varian kepentingan pada satu realitas yang nampak. Tak ada fenomena tunggal seideal apa yang ada dalam pikiran kita masing-masing. Realitas kompleks mengarah pada persinggungan kepentingan. Ia akan terkepung dengan sumber kepentingan, jadi setiap yang nampak otomatis melekatkan sifat-sifat kepentingan yang ada pada ruang tersebut.

Kompleksitas tersebut menyebabkan ragam perspektif pada satu fenomena itu wajar karena memang sifat realitasnya demikian. Hal inilah yang mesti dipertimbangkan sebagai adab dan cara pandang melihat fenomena khususnya di media sosial. Setidaknya perbedaan perspektif itu bisa menjadi bahan yang memperkaya khasanah dalam melihat fenomena secara utuh. Selama kita tidak memaksakan satu perspektif dalam menjustifikasi kebenaran fenomena yang nampak. Jikalaupun ada satu perspektif yang mendekati kebenaran maka itu tentu mempertimbangkan adab dan cara pandang di atas.

Sekali lagi penulis tegaskan bahwa perbedaan pendapat di ruang majemuk dan kompleks itu menarik jika kita ingin membawanya sebagai bahan berdialog. Kita tidak akan merespon dengan kekerasan jika punya kebiasaan berdialog. Sudah semestinya kita pintar nan bijak menggunakan medsos karena kita menulis di atas hp yang pintar (smartphone).

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.  


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top