Intelektulitas, Ruang Publik dan Arus Sosial

OPINI, ARUSMUDA.COM - Geliat intelektual tidak berlangsung di ruang yang kosong. Ia selalu terlibat dalam konteks sosial yang jamak (I’ etre dans lemonde). Hidup di tengah ruang publik yang sarat akan berbagai tarik-menarik kepentingan.

Dalam situasi semacam ini tentu kita tidak melihat intelektualitas terpisah dari transaksi kepentingan. Tentu transaksi yang dimaksud bukan sifatnya material tapi transaksi ide, gagasan ataupun karya.

Geliat intelektual sebisa mungkin diupayakan mendominasi ruang publik. Sehingga sedari awal perlu mereformulasi model gerakan yang kontekstual. Sebagaimana yang dianasir oleh Bourdieu “intelektual kolektif”.

Ruang publik tak lagi dimaknai semata sebagaimana di lingkungan nyata. Kita sudah berada pada lompatan perkembangan industri 4.0 dimana digital space juga bermakna ruang publik. Bahkan digital space beroperasi lebih kencang dalam membangun arus.

Poin pertama yang mesti didorong secepatnya adalah penciptaan ruang produktif untuk menghidupkan isu strategis. Intelektual kolektif tidak identik dengan jumlah pegiatnya melainkan bagaimana lahirnya ragam perspektif. Menciptakan berbagai macam perspektif dalam satu problem. Karena yang harus diperkaya adalah jumlah dan kualitas isunya sebagai penyelesaian masalah yang berbeda di berbagai tempat.

Menghidupkan wacana intelektual samasekali tak terpisah dengan gerakan advokasi. Hal ini perlu dipertautkan sebagai satu kesatuan gerakan intelektual.  Model pertautan semacam ini akan memungkinkan gerakan ini lebih sistematis.

Gerakan masih seringkali bersoal pada warna almamater, organisasi atau kelompok tertentu. Untuk itu gerakan kolektif mengedepankan isu kolektif yang dianggap sebagai masalah bersama. Ini menjadi penting dalam mengkonsolidasikan struktur masyarakat.

Mengangkat isu kolektif memang membutuhkan ketenangan dalam meletakkan persoalan. Pada akhirnya kita memang perlu merelakan keterlekatan simbolik. Perlu mengkompromikan berbagai diferensiasi demi mewujudkan kolektivitas.

Hal ini bukan mustahil terealisasi. Olehnya itu kita memang perlu mengawal ini dengan optimis. Jika gerakan intelektual terus bergerak maka kita tinggal menunggu waktu akan tercipta arus sosial.

Menciptakan arus sosial adalah pencapaian progress yang mesti dilewati. Ia adalah saluran yang akan membentuk kekuatan melalui opini. Inilah langkah strategis yang perlu dikawal baik baik. Menghidupkan ruang-membangun opini-kemudian menciptakan arus.

Sudah saatnya kita merebut ruang publik dengan wacana sendiri. Ini bukan bentuk perlawanan melainkan gerakan yang bisa menetralisir arus opini yang diperlokusi oleh media arus utama.

Jika arus media utama tak lagi hadir mengedukasi publik. Maka kita butuh media alternatif untuk itu. Inilah saatnya kita memanfaatkan kehadiran medsos sebagai ruang umat, ruang penyadaran massal dengan menggandeng intelektualitas sebagai rohnya.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top