Cinta Tak Sebatas Pelukan

ESAI, ARUSMUDA - Tema tersebut di atas bukanlah satu terma percintaan, romantisme ala era milenial, yang memahami cinta sebagai luapan perasaan yang mendalam terhadap lawan jenis.

Cinta yang diretas dari drama, film, novel, seperti Romeo and Juliet, Film Titanic, Novel Tenggelamnya Kapal Vanderwick, bahkan sampai pada mozaik prahara perebutan kekuasaan karena cinta sebagaimana sentilan dalam drama film The Troy.

Di sana ada luka, amarah, kesedihan, airmata. Yah, romantisme berujung pada elegi.

Tetapi terma di atas adalah secuil kisah Rasulullah Muhammad SAW dalam dialogny bersama para sahabatnya. Suatu ketika Nabi, berjalan-jalan dengan para sahabatnya, ditengah perjalanan Rasulullah melihat seorang ibu dengan bayinya yang dipeluk dengan penuh kasih sayang.

Lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, wahai sahabatku, tidakkah engkau lihat ibu yang menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang? Sahabat menjawab, iya Rasulullah, aku melihatnya. Rasulullah kemudian  bertanya, akankah seorang ibu itu melemparkan anaknya di tengah bara api? 

Sahabat pun sontak memandangi wajah Rasulullah, lalu ia (sahabat) menjawab, tidak akan mungkin ya Rasul. Rasul melanjutkan pertanyaannya, kenapa tidak mungkin wahai sahabatku? Salah seorang sahabat menjawab, sangat tidak mungkin ya Rasul, karena ibu itu begitu mencintai, menyayangi anaknya.

Rasulullah menghela nafas sejenak, lalu memberi jawaban kepada para sahabatnya, itu benar wahai sahabatku, tetapi itu tidaklah seberapa cinta seorang ibu kepada anaknya, di banding kecintaan Allah Swt. kepada hambaNya yang beriman. Karena cintaNya kepada mahluknya dibentangkanlah semesta ini tanpa batas kemanusiaan manusia.

Karenanya, hikmah terbesar dalam hidup ini adalah cinta. Yah, kecintaan kepada sang pemilik cinta. Kecintaan manusia terhadap Allah tidak sebatas metafor, tetapi kecintaan itu ditunjukkan dengan ketundukan atas perintahNya atas kebaikan.

Seseorang di ujidengan kemiskinan, tetapi di di dalamnya ada cintaNya Allah wala tahzanu wabsyiru bil jannah, janganlah engkau bersedih dan takut, karena sungguh surga yang dijanjikan untukmu. Seseorang diuji dengan kelimpahan harta, namun tak ada ruh cinta di dalamnya. Ada seseorang bahkan diuji dengan kekuasaan kadang cinta itu tak hadir, karena kesewenang-wenangan.

Maka dari itu, keteladanan atas kecintaan Allah kepada ummat manusia tentu tak dapat di takar dengan materi. Semesta yang membentang, flora fauna, adalah bukti ke Maha Kuasanya Allah.

Catatan Muhasabah
Ujungpandang, 3 April 2018

Syaifuddin al Mughny. Akademisi dan Penulis.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top