Redaktur Sastra Edunews.Id Bedah Buku Puisi Irfan Palippui di Corner Stop cafe

MAKASSAR, ARUSMUDA.COM - Malam baru beranjak saat hujan deras mengguyur Makassar. kondisi alam tersebut tak menghalangi sekelompok anak muda menghadiri bedah buku puisi hasil karya Irfan Palippui yang berjudul Orasi Air Mata.

Kegiatan yang digelar pada selasa (13/03/2018) malam di Corner Stop Cafe dilaksanakan oleh EduCorner dengan menghadirkan Kasman McTutu, Redaktur Sastra Edunews.Id selaku pembedah dan Damar I Manakku, penyair muda Makassar selaku moderator.

Saat membuka diskusi yang dihadiri langsung Irfan Palippui sang penulis buku, Damar memulainya dengan membacakan salah satu puisi dalam kumpulan tersebut yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Dalam pengantar diskusinya, Kasman mengemukakan bahwa Orasi Air Mata adalah kumpulan puisi yang agak sulit dipahami oleh masyarakat awam. "Upaya eksperimentasi penulisan puisi yang dilakukan penulis membuat pembaca umum kesulitan menangkap makna yang hendak disampaikan."

"Bila melihat latar belakang penulis dan judul kumpulan puisi ini, saya sebenarnya berharap kumpulan puisi ini dijejali dengan puisi pamflet, rupanya cuma hampir dua puluh persen yang demikian," Lanjut Kasman.

Menanggapi itu, Irfan mengemukakan bahwa dalam kumpulan itu, dirinya sebagai penulis berupaya melakukan eksperimentasi pembebasan diri dari pakem tulisan yang selama ini berkembang, "Lebih banyak hal yang ingin saya sampaikan pada ruang kosong, daripada melalui tulisan yang nampak pada puisi-puisi ini."

Hal lain yang menjadi perbincangan hangat pada bedah buku tersebut adalah penggunaan diksi senggama, liang, kelamin, payudara, dan lain sebagainya. Seorang penanya mendaku kata-kata itu sebagai diksi yang porno.

Menanggapi hal itu, Kasman, selaras dengan Irfan selaku penulis, menganggap bahwa kata-kata itu tidaklah berkonotasi negatif. Kasman cuma menyoal, "Tak adakah diksi lain yang bisa digunakan? bagiku, kata-kata itu sudah terlalu umum."

Di akhir diskusi, Kasman yang juga Ketua Umum Pimpinan wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Prov. Sulsel menyentil hasrat pembebasan dari teks yang diusung Irfan, "Apa mungkin? sebab seperti nasib dekonstruksi Derrida, jangan-jangan ini juga hanya akan kembali pada jebakan logosentrisme."

Namun bagi Kasman, bila puisi-puisi ini benar sebagai upaya rekonstruksi subyek yang telah terberai sesuai pendakuan Lacan, sebagaimana pengakuan Irfan sendiri, maka bagi Kasman, Irfan berhasil. 

"Seperti kata Zizek, subyek akan terlihat pada bagaimana dia menghadapi sebuah momentum, dan Irfan lahir sebagai subyek dari sikap-sikapnya terhadap sebuah momentum yang terekam dalam puisi-puisinya." Pungkas Kasman.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top