Merawat Indonesia

OPINI,  ARUSMUDA.COM - Indonesia sebagai sebuah negara memang masih muda jika dibandingkan Jepang yang telah bersatu sebagai sebuah kaekaisaran pada tahun 1600 atau Kerajaan Thailand sudah berdiri pada tahun 1238.  Lebih muda dari revolusi perancis 1789 dan Amerika Serikat yang merdeka tahun 1776. Tetapi Negara Republik indonesia yang bercorak modern sudah cukup dewasa, hampir seusia Republik Tiongkok yang dideklarasikan Sun Yat Sen tahun 1911, India yang merdeka tahun1947. Bahkan Indonesia lebih tua dari persekutuan Malaysia 1964, Revolusi Iran 1978 dan Afrika selatan yang baru merasakan kemerdekaan tahun 1994.

Mungkin negara seperti juga rumah tangga, mengalami pasang surut dalam perjalanan sejarahnya, ada yang menjadi kuat, ada yang terancam bubar bahkan ada yang tinggal nama. Tergantung bagaimana warga mengelolanya, menepis hambatan dan masalah -masalah yang bisa membuatnya retak. Kebanyakan negara maupun rumah tangga yang runtuh bukan disebabkan oleh ancaman dari luar, tetapi masalah dari dalam yang dibiarkan dan tak diselesaikan.

Ditahun 2000-an ini kita banyak sekali melihat negara yang hancur baik dari dalam maupun unsur dari luar semisal Irak, Syiria dan Mesir.Pun Indonesia telah melewati cukup banyak ujian dalam perjalanan sejarahnya. Diawal kemerdekaan harus dipertahankan dari serangan NICA yang membonceng sekutu, pembentukan negara boneka oleh belanda, pendirian negara islam dan Republik soviet oleh Komunis. Ujian selanjutnya adalah peralihan kekuasaan yang tidak mulus ditahun 1965 yang merenggut banyak nyawa, juga turbulensi politik pada saat peralihan kekuasaan di tahun 1998.

Menjadi rakyat Indonesia mungkin belum bisa banyak merasakan kenikmatan, pembagian kue keadilan. Ini adalah jaman dimana kita masih dituntut banyak berjuang, sebagaimana rumah tangga yang belum mapan, butuh banyak kesabaran didalamnya. Tetapi kita selalu optimis bahwa hari esok pasti lebih baik dan yakin bisa kita wujudkan jika tetap bersama.

Negara seperti juga rumah tangga, warganya perlu selalu memperbaharui komitmen, menyadari sepenuhnya mengapa kita bersama dalam satu biduk negara, membaca visi para pendiri negara, sehingga melahirkan tanggung jawab membersihkan pengotor kehidupan bernegara seperti korupsi, ideologi anti negara dan ketidakadilan yang memicu disintegrasi. mungkin sesekali perlu merasakan romantisme ketika awal menjalani hidup bersama.

Seperti kata Hegel bahwa sejarah bergerak kearah rasionalitas, masyarakat terus berdialektika menuju masyarakat yang lebih baik. Tinggal bagaimana mengambil peran dalam membentuk masyarakat yang baik sekecil apapun peran itu, sekecil apapun itu.Mari bersama merawat Indonesia.

Dr. Syahid Arsjad. Akademisi Universitas Hasanuddin. 

Sumber: EduNews


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top